Punya Metodologi Sendiri, Waktu Salat di Masjid ini Tidak Pakai Jadwal Kemenag

oleh -70 views
UNIK: Salah satu jam matahari yang dimiliki Masjid Al-Karomah merupakan penentu istiwa dan masuk waktu salat fardlu di masjid ini. FOTO : JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON
UNIK: Salah satu jam matahari yang dimiliki Masjid Al-Karomah merupakan penentu istiwa dan masuk waktu salat fardlu di masjid ini. FOTO : JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, KOTAWALI -Ada yang unik di Masjid Al-Karomah. Masjid yang berada di daerah Kegiren, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu waktu azan untuk salat fardlu berbeda dengan masjid lainnya, termasuk Masjid At-Taqwa. 

Menurut Ketua DKM Al-Karomah Taufiq (63), perbedaan waktu azan tersebut disebabkan oleh acuan yang berbeda. Masjid Al-Karomah sendiri menggunakan istiwa berdasarkan jam matahari, berbeda dengan masjid lainnya yang menggunakan jadwal Kementerian Agama (Kemenag).

“Jadi kalau seandainya masjid lain menggunakan jadwal waktu salat dari Kemenag, kami di sini menggunakan istiwa berdasarkan jam matahari,” ujar Taufiq saat ditemui Radar Cirebon, Jumat malam (23/4).

Baca juga: Diminta Mendesain Masjid Islamic Center Surabaya, Ridwan Kamil : Alhamdulillah Jadi Ladang Ibadah

Diakuinya, hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Pasalnya, ada hadist yang merupakan pesan dari Nabi Muhammad SAW. Dengan melihat sejarah, akhirnya pendiri menggunakan hal yang sama dengan penentuan waktu azan dari Rasulullah.

Namun, penggunaan istiwa di masjid ini pernah terputus. Hal tersebut disebabkan karena kuncen dari masjid ini meninggal, serta tidak banyak masyarakat yang mengerti penggunaannya. Sehingga, kembali mengikuti jadwal Kementerian Agama. Hingga sekarang, kembali menggunakan istiwa tersebut.

Penggunaan jam matahari juga bisa dianggap sesuai, karena terbit atau terbenamnya matahari tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Sehingga, istiwa ini dianggap tepat oleh masyarakat sekitar.

Taufiq juga menambahkan, dalam ilmu astronomi, istiwa juga sering dikenal dengan kulminasi atas. Hal tersebut berarti matahari sampai ke bumi dengan posisi tegak lurus. Dengan catatan, ada kalanya bisa terjadi pergeseran sedikit.

Baca juga: Ada Siluman Buaya Berparas Tampan, Kisah Dibalik Masjid tanpa Bedug Indramayu

Salah satu contohnya adalah penentuan waktu Dzuhur. Jadi berdasarkan hadist dari Nabi Muhammad SAW, mana kala sudah masuk waktu istiwa, maka matahari tegak lurus. Kemudian, jika tergelincir ke arah barat 1 derajat atau sama dengan empat menit, sehingga itulah waktu yang tepat.

“Jadi misal istiwa pukul 12.00, tunggu bergeser 1 derajat, berarti sekitar 12.04 kita azan,” imbuhnya.

Sementara itu, masyarakat sekitar biasa menyebutnya Masjid Kramat. Masjid ini dibangun pada tahun 1800-an. Hal tersebut diketahui setelah melihat ukiran pada kayu-kayu yang dibongkar.

Berdasarkan cerita sesepuh di daerah Kegiren, kayu tersebut terbuat dari kayu Bugis, Makassar. Hingga sekarang, masjid ini masih digunakan masyakarat untuk beribadah.

Penamaan Masjid Kramat sendiri juga memiliki kisah tersendiri. Menurut cerita, dahulu ada para pelaut yang sedang berlayar di sekitaran daerah Cirebon dan melihat cahaya putih mirip mercusuar di pinggir Pantai Cirebon. Namun saat didekati, ternyata para pelaut melihat sebuah bangunan masjid.

Kemudian, ada juga kisah yang berkembang bahwa masjid ini merupakan masjid yang dibangun oleh orang-orang kesultanan atau para habaib atau keturunan Nabi Muhammad SAW. Sebabnya, di tempat tersebut terdapat salah satu makam yaitu Abdurrahim Asegaf.

Taufiq menutup dengan memberikan pernyataan bahwa ia juga tidak tahu terkait perbedaan antara jadwal Kementerian Agama dan juga Masjid Al-Karomah.

“Biasanya Kemenag juga menggunakan jam matahari. Namun, kami tidak tahu perbedaan yang terjadi apa sebabnya,” tutupnya. (jerrell/radarcirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.