PUASA DAN MUDIK SPIRITUAL

oleh -148 views
ILUSTASI. RADAR CIREBON
ILUSTASI. RADAR CIREBON

Oleh Dedy Sutrisno Ahmad Sholeh *)

Hampir sebulan penuh umat Islam berpuasa. Namun sebenarnya belum merupakan jaminan bahwa seseorang berhasil memasuki kembali perjalanan akhir lambang kemenangan dan keberhasilan dalam menjaga kondisi fitrahnya sehingga seseorang berhak menyandang sebagai muttaqien (orang yang bertakwa), sebagai tujuan puasa Ramadan.

Fitrah yang merupakan kodrat manusia semenjak lahir menggambarkan keadaan suci-azali manusia yang secara ruhani berkecukupan (contentment) dan selalu ada dalam kesadaran berketuhanan (Gods Consciousnes).

Kondisi Fitrah adalah keadaan manusia di mana dirinya sepenuh hati berada dalam kesadaran bahwa Tuhan selalu hadir dalam dirinya, dan bahwa kemana pun engkau menghadapkan wajah, di situ ada wajah Tuhan.

Tradisi mudik merupakan masalah yang menarik bagi masyarakat Indonesia umumnya dan Jawa Barat khususnya. Karena meskipun perkembangan zaman telah maju, kemajuan teknologi amat pesat, para keluarga yang bekerja jauh dari kampung halamannya berusaha pulang untuk berbakti kepada orangtua.

Baca juga: SEMANGAT MENJEMPUT LAILATUL QADAR

Kendati perjalanan yang harus ditempuh amat berat, baik dari segi biaya, tenaga, waktu, maupun antrean dan desak-desakan selama perjalanan. Apakah hal tersebut tidak dapat diganti dengan sarana teknologi informasi.

Jika ditelusuri lebih lanjut, konteks mudik telah mengalami polarisasi di tingkat pelaku. Di mana mudik (Idul Fitri) tidaklah khas milik umat Islam (di Jawa Barat khususnya), melainkan milik seluruh bangsa, utamanya komunitas urban.

Jadi, tidak bisa dikategorikan bahwa mudik semata-mata milik komunitas “pedesaan”, melainkan juga milik komunitas urban kelas menengah (muslim maupun non muslim).

Mudik spiritual Idul Fitri dalam konteks spiritual bisa dikatakan sebagai puncak “bersih diri” sehingga sifatnya dalam konteks tidak lagi kolektif dan tidak mengenal lokalitas secara kultural, melainkan bersifat spiritual-individual, dan berlaku bagi setiap muslim tanpa memandang sekat-sekat kesukuan.

Idul Fitri, yang berarti “kembali kepada fitrah kesucian manusia” secara metafisis bagi seorang muslim pada prinsipnya bersyarat. Salah satunya adalah dengan melakukan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh.

Puasa dalam konteks ini bisa dikategorikan sebagai tangga yang harus ditempuh dalam proses “mudik spiritual” yang berpuncak pada Idul Fitri (bersih diri).

Mudik spiritual dalam dalam makna yang demikian tidak berlaku bagi orang yang tidak melaksanakan puasa Ramadan. Pertama, ibadah dan puasa Ramadan memiliki nilai lebih dibanding bulan-bulan lainnya. Latihan-latihan spiritual sarat dilakukan di bulan ini, sebagai latihan dasar untuk menempuh hal yang sama untuk dilaksanakan di bulan-bulan selain bulan Ramadan.

Ini sekaligus untuk menghindarkan diri dari watak kesalehan simbolis, watak hayang meunang sorangan atau sakahayang beribadah, sehingga ibadah dilaksanakan selama Ramadan sampai larut. Jika demikian, maka ibadah tidak akan meninggalkan apapun kecuali kesan “pamer”.

Kedua, dalam situasi “lapar dan dahaga” tercermin bahwa pola hidup sederhana, menjadi daya tawar bagi terciptanya pribadi-pribadi muslim yang berkepedulian terhadap sesama dan berwawasan sosial. Di sini, nilai implementasi zakat fitrah (bersih diri) bisa ditemukan titik singgungnya.

Baca juga: URGENSI MENGENAL MUTAHIQ DAN MUZAKKI

Ketiga, puncak puasa Ramadan adalah Idul Fitri, tercapainya kembali kondisi fitrah kemanusiaan. Sekembalinya kita pada posisi “fitrah” meniscayakan hilangnya pola-pola dan cara-cara destruksi. Kondisi fitrah-bersih diri mengajari kita akan etika berperikehidupan yang manusiawi, untuk membedakannya dengan perikehidupan hewani, yang destruktif dan amoral.

Inti halal bil halal adalah maaf-memaafkan antarsesama manusia. Mengingat dosa/kesalahan manusia dapat terjadi dengan Khalik, karena tidak patuh terhadap perintah dan larangan-Nya, dan kedua kesalahan manusia terhadap sesama selama berinteraksi sosial, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
 

Dalam budaya Sunda (Jawa Barat), acara halal bil halal (silih ngahampura / saling memaafkan) disertai simbol kupat atau ketupat, yang bermakna ngaku lepat menyadari kesalahan atau simkuring ngaraos lepat. Kesadaran terhadap kekurangan dan kesalahannya sendiri merupakan sifat yang amat terpuji.

Lebaran adalah saat solidaritas sosial diperkuat dengan cara yang lebih terorganisir, sehingga setiap lebaran tiba ada sejumlah umat miskin yang tersejahterakan, tidak saja untuk satu atau dua hari, tapi sampai ke anak cucu. Mudik tidak sekedar pamer sukses, tetapi mudik yang mensejahterakan, yaitu mudik mencari nilai spiritual yang  bermakna.

Wallahu alam (*)

*) Pemerhati masalah sosial budaya dan pendidikan, alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Harian Umum Radar Cirebon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3377

  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3377

  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3377

  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3377

No More Posts Available.

No more pages to load.