Pemilihan Jaka Rara Ditunda

oleh -6 views
duta wisata jaka rara
DIANGGAP BAIK: Para wisatawan berenang di Cirebon Waterland. Untuk Duta Wisata (Jaka Rara), DKOKP menunda dalam pemilihannya. Foto Apridista Siti Ramdhani / Radar Cirebon

CIREBON – Pandemi Covid-19 membuat gemerlap sektor pariwisata di Kota Cirebon meredup. Pandemi juga telah berimbas pada target kunjungan wisatawan meleset. Namun demikian, Dinas Kepemudaan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Kota Cirebon optimistis, sektor pariwisata akan lebih baik di tahun 2021. Tentunya, diimbangi dengan harapan bahwa angka kasus Covid-19 juga semakin terkendali.

Hingga triwulan ketiga, atau sampai dengan bulan September 2020, angka kunjungan wisatawan di Kota Cirebon memang sangat jauh dari target. Di mana, target awal adalah 2,1 juta kunjungan wisatawan. Sementara realisasinya baru mencapai 420.643 kunjungan. Atau sekitar 25 persen dari yang ditargetkan.

Kendati begitu, Kepala Bidang Pariwisata DKOKP Kota Cirebon, Wandi Sofyan mengatakan, dengan banyaknya hal, mulai dari pandemi Covid-19, adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga sederet aturan yang dianggap tidak menguntungkan pelaku pariwisata. Namun, secara umum, kondisi pariwisata di Kota Cirebon masih lebih baik dibanding daerah lain.

“Dengan banyaknya hal yang harus dilalui selama 2020, memang kondisi pariwisata kita terpuruk. Dan di kami sendiri banyak target kerja yang tak bisa kami lakukan karena adanya pandemi ini,” ungkapnya.

Wandi melanjutkan, kegiatan seperti promosi dan pameran wisata tidak bisa dilaksanakan. Begitupun dengan beberapa agenda wisata, juga terpaksa harus ditunda. Termasuk pemilihan Duta Wisata Kota Cirebon, yakni pemilihan Jaka dan Rara.

“Tetapi sekarang kondisinya sudah lebih baik. Hotel-hotel, rumah makan dan tempat hiburan sudah dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan. Walaupun untuk bioskop, ada beberapa yang belum, karena itu juga bergantung dengan manajemen masing-masing. Namun kami melihat bahwa tahun ada harapan untuk sektor pariwisata bergeliat kembali,” bebernya.

Terlebih, di akhir tahun lalu, pelaku pariwisata di Kota Cirebon juga memeroleh suntikan hibah dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebesar Rp22 miliar. Di mana, selain untuk subsidi hotel-hotel dan restoran, hibah tersebut juga digunakan untuk pengembangan pariwisata melalui program sertifikasi CHSE atau Cleanliness, Health, Safety Environment.

Wandi melanjutkan, sertifikasi CHSE ini juga merupakan instrumen yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kembali pariwisata dan ekonomi kreatif yang bebas Covid-19. Di mana, pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan yang higienis. Serta koordinasi pemerintah untuk melakukan pemerataan akses kesehatan, khususnya fasilitas kesehatan di wilayah pariwisata.

“CHSE ini menjadi standar bagi para pelaku pariwisata. Dengan sertifikasi tersebut juga menunjukkan peran pelaku pariwisata dalam menerapkan protokol kesehatan Covid-19,” pungkasnya. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *