Menjaga Tradisi, Ponpes Jagasatru Adakan Ngaji Pasaran Selama Ramadan

oleh -78 views
NGAJI PASARAN : Para santri di Pondok Pesantren Jagasatru sedang mengikuti pengajian pasaran dengan menggunakan Kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi. FOTO : JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON
NGAJI PASARAN : Para santri di Pondok Pesantren Jagasatru sedang mengikuti pengajian pasaran dengan menggunakan Kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi. FOTO : JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, KOTAWALI – Ramadan 1442 H kali ini, Pondok Pesantren Jagasatru kembali mengadakan pengajian pasaran.

Tahun lalu pengajian ini terpaksa ditiadakan karena pandemi Covid-19 melanda Indonesia, bahkan dunia.

Pada pengajian kali ini, para santri ditargetkan untuk mengkhatamkan satu kitab dengan tenggat waktu tertentu sebelum Lebaran.

Biasanya, selama bulan Ramadan terdapat 7 kitab yang setidaknya dibawakan oleh beberapa pembicara pada pagi setelah ba’da subuh, siang ba’da dzuhur, ba’da  ashar dua kitab, dan ba’da tarawih dua kitab.

Kitab-kitab tersebut dikaji dan diolah selama pengajian tersebut. Untuk tahun ini, Pesantren Jagasatru menggunakan beberapa kitab fiqih, tasawuf, dan juga sejarah.

Baca juga: BPL HMI Cabang Cirebon “Turun Gunung” Makmurkan Masjid

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Jagasatru, Habib Hasanain bin Habib Muhammad bin Yahya menjelaskan, bahwa ia biasanya membawakan kitab seperti Irshadul Ibad pada siang hari yang merupakan kitab tasawuf.

Kemudian, pada sore hari dibawakan kitab fiqih yakni kitab Safinah. Dilanjut dengan malam hari yakni kitab Bughyah dan Al Adzkar yang merupakan kitab fiqih.

Nantinya, kitab-kitab tersebut akan dikaji oleh tiga kelas yakni kelas anak, kelas tinggi, dan kelas umum. Pengelompokan tersebut didasarkan kepada usia.

Untuk yang berumur 15 tahun ke bawah masuk ke kelas anak. Selanjutnya, untuk umur 15 tahun ke atas atau minimal Madrasah Aliyah (MA) masuk ke kelas tinggi. Dan untuk umum dapat diikuti oleh masyarakat umum dengan segala usia.

“Pengelompokan berdasarkan kelas kita bagi sesuai umurnya. Umur 15 tahun ke atas bisa masuk kelas besar. Untuk yang di bawah bisa masuk kelas anak, dan ada yang umum juga,” imbuhnya.

Hingga sekarang, Pesantren Jagasatru terus menjaga dan memegang nasihat dari orang tua. Hal yang terpenting adalah baik untuk pribadi dan keluarga. Sehingga, dalam perkembangannya pesantren ini terus mengalir saja tidak punya target tertentu.

Baca juga: Karantina Tahfidz, Sebuah Cara Kurangi Pengaruh Game Online Pada Anak

“Kita mengalir saja, tidak ada target tertentu. Insya Allah yang penting kita berdoa dan maslahat ajalah agar bisa mendapat kebaikan dalam semua langkah kita,” tuturnya.

Pondok Pesantren Jagasatru adalah salah satu pondok yang masih eksis dan terletak di Kelurahan Jagasatru, Kota Cirebon yang didirikan sekitar tahun 1920 M oleh Habib Syekh bin Yahya, yaitu seorang ulama kharismatik kelahiran Palimanan.

Pesantren ini tidak hanya menjadi pusat penimbaan ilmu. Tetapi juga menjadi lokasi pergerakan ulama khususnya di Cirebon untuk melawan para penjajah.

Pesantren ini pun dikelola secara turun temurun. Setelah Habib Syekh wafat, kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh putranya yakni Habib Muhammad bin Yahya atau yang lebih dikenal dengan Kang Ayip Muh. Sosok Kang Ayip Muh juga begitu dikenal luas terutama di kalangan Nahdliyin dan begitu tegas terhadap hukum.

Setelah wafatnya Kang Ayip, tonggak estafet kepemimpinan diberikan kepada Habib Hasanain yang merupakan putra dari Habib Muhammad Yahya. Dengan mempertahankan ciri khasnya yaitu mengajarkan kesederhanaan dan kemandirian, pesantren ini terus eksis hingga sekarang.

Pesantren ini memiliki sekitar 250 hingga 300 santri yang kini masih bermungkin di daerah pondok pesantren. Kebanyakan mereka adalah pendatang lokal dari sekitaran Ciayumajakuning. Namun terdapat juga, beberapa santri yang berasal dari Riau, Kepulauan Riau.(jerrell/radarcirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *