Masjid Agung Buntet Pesantren, Dulunya Padepokan Dari Pangeran ini

oleh -260 views
PENUH FILOSOFI : Salah satu potret sudut Masjid Agung Buntet Pesantren yang kaya akan nilai filosofi dan tradisi. FOTO. JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON
PENUH FILOSOFI : Salah satu potret sudut Masjid Agung Buntet Pesantren yang kaya akan nilai filosofi dan tradisi. FOTO. JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, KOTAWALI – Masjid merupakan tempat sentral dari dakwah Islam di Indonesia. Tidak terkecuali pondok pesantren yang memasukan masjid sebagai unsur pokok berdirinya pesantren.

Salah satunya adalah Pondok Pesantren Buntet, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon yang memiliki masjid bernama Masjid Agung Buntet Pesantren yang dibangun kira-kira tahun 1833 M.

Menurut Sesepuh Pesantren Buntet, K.H Hasanuddin Kriyani, pesantren ini dibangun bersamaan dengan dibangunnya Benda Kerep dan Gedongan yang dibangun tahun 1833 M. Masjid ini mengikuti gaya dari Masjid Agung Demak.

Mulanya, masjid ini hanya sebatas padepokan dari Pangeran Cakrabuana, tepatnya sebelum menjadi Pesantren Buntet.

Beberapa sesepuh juga pernah berdiam di daerah ini. Salah satunya adalah Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati yang diajak itikaf oleh Pangeran Cakrabuana di tempat ini.

Hal tersebut diketahui menurut cerita K.H Abdul Hamid Anas, ketika Sunan datang dari Mesir untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia. Beliau diarahkan oleh Pangeran Cakrabuana untuk tinggal di padepokan yang sekarang menjadi masjid di Buntet.

Baca juga: Punya Metodologi Sendiri, Waktu Salat di Masjid ini Tidak Pakai Jadwal Kemenag

Hingga pada tahun 1883 M ada seseorang yang Mubarak atau seorang dermawan yang ingin membangunkan masjid di tiga pesantren yaitu Benda Kerep, Gedongan, dan juga Buntet. Dan pada akhirnya berdiri masjid yang pada mulanya didirikan oleh Mbah Muqoyyim.

Dahulu, bentuk dari masjid ini adalah bangunan panggung. Sebabnya untuk menghindari banjir yang datang dari sungai dekat masjid. Namun, sekarang masjid ini sudah direnovasi.

Menurut, K.H Ade Mohammad Nasihulumam, Imam Masjid Agung Buntet Pesantren, hal yang masih dipertahankan salah satunya adalah bangunan utama yang hanya menampung 100 jamaah dengan imam. Sehingga terdapat mimbar yang tidak boleh dipindah. Untuk itu, terdapat 99 jamaah dengan 1 imam yang melambangkan 99 asmaul husna ditambah Allah SWT menjadi 100.

“Makanya, tempat mimbar terdapat di dalam bagunan utama masjid, sehingga minus 1 menjadi 99 jamaah. Sehingga, asmaul husna-nya 99 ditambah Allah menjadi 100,” ujarnya.

Terdapat juga 9 pintu utama yang menggambarkan Abu Bakar As Sidiq, Umarr bin Khattab, Usman bin Afaan, Ali bin Abi Thalib, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Imam Malik Bin Anas, Muhammad Bin Idris Asy’syafi’I, Ahmad Bin Hambal Asy-Syaibani, dan Abu Hanifah, An-Nu’man Bin Tsabit.

Kemudian susunan dari atap masjid ini juga berjumlah tiga yang melambangkan iman, islam, ikhasan. Pancatan juga berjumlah lima dan ditambah satu. Lima adalah rukun islam dan satunya lagi adalah rukun iman.

Baca juga: Diminta Mendesain Masjid Islamic Center Surabaya, Ridwan Kamil : Alhamdulillah Jadi Ladang Ibadah

K.H Ade juga menambahkan, dalam bulan Ramadhan ini, terdapat beberapa adat istiadat yang turun-temurun dilakukan setiap tahunnya. Salah satunya adalah tradisi dugdag yang biasanya dilakukan dengan cara menabuh bedug saat mulai menjelang maghrib untuk memberitahu masyarakat tentang awal Ramadhan atau Idul Fitri.

 “Jika di Buntet sudah dugdag, jadi masyarakat menganggap besok adalah 1 Ramadhan atau Awal Idul Fitri. Dahulu lebih meriah lagi, karena menggunakannya meriam,” ujarnya.

Selain itu ada kegiatan lain, yaitu tradisi Ngejaburi. Tradisi ini dilakukan dengan pembuatan kue oleh warga yang akan dikirimkan pada warga lain dan juga masjid. Nantinya, kue tersebut akan dimakan pada saat tarawih di masjid tersebut.

Hal yang terakhir dilakukan adalah Tadarusan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengaji Al-Quran dan disimak oleh masyarakat sekitar. Kemudian, dalam 1 bulan Ramadhan akan mengulang sebanyak satu kali Al-Quran karena setiap harinya akan dibacakan 2 juz oleh para Kiayi. (jerrel/radarcirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.