KEUTAMAAN TADARUS ALQURAN (Refleksi Peringatan Nuzulul Quran)

oleh -17 views
ILUSTRASI. RADAR CIREBON
ILUSTRASI. RADAR CIREBON

Oleh: H Imam Nur Suharno SPd SPdI MPdI*)

Setiap tanggal 17 Ramadan kaum Muslimin selalu memperingati malam Nuzulul Quran. Peringatan ini hendaknya dijadikan sebagai sarana evakuasi diri terkait intensitas dalam tadarus Alquran.

Ramadan, bulan yang sarat dengan amal kebajikan dan pahala yang melimpah. Pada bulan ini, segala amal kebajikan pahalanya dilipatgandakan, sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat (H.R. Muslim).

Untuk itu setiap muslim hendaknya mengoptimalkan Ramadan dengan amal kebajikan yang dicontohkan sang teladan mulia, Nabi Muhammad SAW. Di antara amal kebajikan yang sangat dianjurkan dan dicontohkan dilakukan di bulan Ramadan adalah tadarus Alquran.

Tadarus Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu Allah SWT yang turun pertama kali pada malam bulan Ramadan (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185).

Dengan tadarus Alquran, kandungan hikmah yang termuat dan terkumpul di dalam Alquran dapat menjadi kompas penunjuk jalan menuju kebenaran.

Malaikat Jibril menyimak tadarus Alquran Rasulullah setiap bulan Ramadan. Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan tadarus Alquran setiap hari sekali. Imam Syafii mengkhatamkan tadarus Alquran sebanyak enam puluh kali di bulan Ramadan, Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali, serta tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Ramadan.

Terkait larangan Nabi SAW mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Sesungguhnya larangan dari Nabi SAW untuk mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari berlaku jika dilakukan secara rutin. Adapun untuk waktu-waktu yang utama, seperti bulan Ramadan, lebih-lebih pada malam-malam lailatul qadar, atau di tempat-tempat yang dimuliakan, seperti di Mekah bagi orang yang memasukinya, selain penduduknya, adalah disunahkan untuk memperbanyak tadarus Alquran.

Hal itu dalam rangka mencari keutamaan waktu dan tempat tersebut. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishak, dan yang lainnya.” (Raghib As-Sirjani dan Muhammad Al-Muqaddam dalam bukunya Madrasah Ramadan).

Tak heran, jika Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk senantiasa bertadarus Alquran. Sebab, ada banyak keutamaan dalam tadarus Alquran.

Pertama, menjadi sebaik-baiknya manusia (H.R. Bukhari). Tidak ada manusia yang lebih baik daripada orang yang mau belajar dan mengajarkan Alquran. Oleh karena itu, profesi pengajar Alquran jika dimasukkan sebagai profesi adalah profesi terbaik di antara sekian banyak profesi.

Kedua, memperoleh kebajikan yang berlipat (H.R. Tirmidzi). Tidak ada aktifitas membaca di dunia ini yang bernilai pahala setiap hurufnya diganjar sampai sepuluh kebajikan kecuali tadarus Alquran. Bahkan, dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali lipat jika dilakukan di bulan Ramadan.

Ketiga, memberi syafaat di hari kiamat (H.R. Muslim). Selain bernilai pahala kebajikan yang berlipat, ternyata Alquran pun akan memberikan syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat nanti.

Keempat, para pembacanya akan dikumpulkan di surga bersama para Malaikat (H.R. Bukhari dan Muslim). Kelima, mengangkat derajat (H.R. Muslim). Keenam, menjadi pembeda (H.R. Bukhari dan Muslim).

Begitu tinggi keutamaan yang akan diperoleh bagi para petadarus Alquran. Yang pasti, tadarus Alquran merupakan amalan mulia yang dianjurkan Nabi SAW, apalagi pada bulan Ramadan.

Karena itu, bagi orang yang berpuasa dan sibuk dalam tadarus Alquran layak mendapatkan dua syafaat sekaligus, yaitu syafaat puasa dan syafaat Alquran.

Nabi SAW bersabda, “Puasa dan Alquran akan memberi syafaat bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya. Alquran berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat.” (H.R. Ahmad).

Untuk itu, jangan biarkan bulan Ramadan berlalu tanpa tadarus Alquran. Wallahu a’lam. (*)

*) Penulis Buku Kurma (Kuliah Ramadan), dan Kepala HRD Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat

Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Harian Umun Radar Cirebon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *