Hasil Laboratorium, Segini Usia Kayu Masjid Kuno Bondan Indramayu

oleh -106 views
MASJID KUNO BONDAN: Tampak dari luar, bangunan masjid yang terbuat dari kayu berusia belasan ribu tahun terlihat masih kokoh. FOTO. JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON
MASJID KUNO BONDAN: Tampak dari luar, bangunan masjid yang terbuat dari kayu berusia belasan ribu tahun terlihat masih kokoh. FOTO. JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, KOTAWALI – Masjid Kuno Bondan atau yang kerap masyarakat sekitar sebut dengan nama Masjid Darussajidin Bondan Barat, merupakan salah satu masjid tertua di Indramayu bahkan Jawa Barat.

Masjid ini berada di Desa Bondan, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu hingga kini terlihat masih kokoh.

Berdiri tahun 1414 M, masjid ini konon sudah berdiri sebelum adanya Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu. Hal tersebut diketahui dari kubah masjid yang masyarakat sekitar sebut dengan momolo.

Momolo terbuat dari tanah liat yang berbentuk semacam Menara dengan empat sisi, yang memiliki arti syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

Baca juga: Masjid Agung Buntet Pesantren, Dulunya Padepokan Dari Pangeran ini

Menurut Juru Pelihara, Nudiyalis Sholat (26), pendiri dari masjid ini adalah Syekh Datuk Kahfi yang lebih dikenal masyarakat Cirebon dengan sebutan Syekh Nurjati. Namun, masyarakat Bondan lebih mengenalnya dengan julukan Syekh Bayanillah karena letak lokasi yang berada di bantaran Sungai Cimanuk.

“Pendiri dari masjid ini yaitu Syekh Datuk Kahfi yang masyarakat Bondan sebut dengan Syekh Bayanillah, sebab Bondan berada di pinggi Sungai Cimanuk,” ujar Nudiyalis ketika ditemui Radar Cirebon, Minggu (18/4).

Nudiyalis menambahkan, masjid ini menurut cerita dibangun dalam satu malam. Hal inilah yang menjadi alasan penamaan Masjid Sapu Angin Sadalu.

Masjid ini juga pada awalnya berada di sebuah Kebon Pandan Alas yang dijadikan pusat penyebaran Islam oleh Syekh Datuk Khafi. Menurut cerita, Masjid Bondan pernah dijadikan tempat membentuk para wali oleh Syekh Datuk Khafi. Ditempat ini juga, Prabu Siliwangi pernah bertemu dengan Nyai Subang Larang.

“Sebelum adanya Cirebon, disinilah tempat Syekh Datuk Khafi membentuk para wali, termasuk diantaranya Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Djati,” imbuhnya.

Masjid Kuno Bondan juga pernah diteliti oleh seorang ulama yang berasal dari Indramayu. Beliau mengambil sampel kayu dari salah satu bagian masjid, untuk diteliti di laboratorium. Hingga diketahui, bahwa kayu tersebut sudah ada sekitar tahun 1300 M.

“Bahkan tahun 1400-an itu merupakan zamannya Syekh Alimudin, mueridnya Syekh Bayanillah yang meneruskan beliau, karena pintunya itu pernah diuji laboratorium sudah ada sejak 1300 M,” tandasnya.

Masjid ini sebenarnya terbagi ke dalam dua bagian, yakni bagian teras yang merupakan hasil renovasi yang dilakukan pihak pengelola masjid.

Baca juga: Punya Metodologi Sendiri, Waktu Salat di Masjid ini Tidak Pakai Jadwal Kemenag

Kemudian, bagian utama masjid yang semuanya terbuat dari kayu jati. Hal yang unik adalah bangunan masjid ini berbentuk panggung dengan tinggi 50 sentimeter dari tanah.

Ukuran dari masjid ini cukup kecil, yakni 9×9 meter yang dibagian sisi kanan dan kirinya terdapat jendela sederhana berbentuk kotak.

Sementara di bagian depan masjid terdapat jendela kecil berbentuk bintang. Namun, bangunan masjid dari kayu ini masih asli hanya ada beberapa renovasi terutama pada kayu.

“Bangunan masjid masih asli sejak dari dahulu. Walaupun, sudah ada renovasi sebanyak tiga kali pada tahun 1965, 1979, dan 1992. Namun, seperti kayu dan juga atap sudah diganti,” ujarnya.

Dilansir dari laman resmi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, Syekh Datuk Kahfi mengumpulkan para pengikutnya untuk memusyawarahkan pendirian bangunan sholat berjamaah.

Akhirnya, mereka menyepakati untuk mendirikan masjid yang letaknya tidak jauh dari Sungai Cimanuk dan cangkop atau balai yang telah dibangun oleh Ki Geden Bondan yaitu di Desa Bondan Barat.

Kemudian keesokan harinya, Syekh Datuk Kahfi membuat bedug yang bila ditabuh bisa terdengar sampai Cirebon. Namun, hingga saat ini bedug tersebut tidak diketahui keberadaanya. (jerrell/radarcirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *