Dukuh Semar, Saksi Bisu Peran Syekh Siti Jenar atas Berdirinya Cirebon

oleh -163 views
SYARAT SEJARAH: Jalan Dukuh Semar terletak di wilayah selatan Kota Cirebon. Nama jalan tersebut diambil dari nama kampung yang berada di RW 03 Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Kampung Dukuh Semar merupakan titik awal berkembangnya Caruban yang sekarang menjadi Cirebon. FOTO. MOHAMAD JUNAEDI/RADAR CIREBON
SYARAT SEJARAH: Jalan Dukuh Semar terletak di wilayah selatan Kota Cirebon. Nama jalan tersebut diambil dari nama kampung yang berada di RW 03 Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Kampung Dukuh Semar merupakan titik awal berkembangnya Caruban yang sekarang menjadi Cirebon. FOTO. MOHAMAD JUNAEDI/RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, KOTA WALI – Kalau anda sering lalu lalang di wilayah Harjamukti, Kota Cirebon, terutama di belakang terminal. tentunya kenal dengan daerah atau jalan yang bernama Dukuh Semar.

Dukuh Semar merupakan sebuah kampung yang memiliki luas kurang lebih 1,5 kilometer persegi yang terdiri dari 1 Rukun Warga (RW) dengan 10 Rukun Tangga (RT). Secara administratif, kampung yang terletak di belakang Terminal Harjamukti ini, berada di RW 03 Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Kampung Dukuh Semar ternyata memiliki catatan sejarah yang panjang dan menjadi saksi perkembangan Kota Cirebon dari masa ke masa.

Berdasarkan keterangan dari pustakawan Keraton Kanoman, Farihin bahwa kehadiran Dukuh Semar ternyata tidak terlepas dari perjalanan Syekh Lemah Abang atau San Ali dengan Pangeran Cakrabuwana.

 “Ketika beliau-beliau ini sedang dalam perjalanan, di satu tempat bertemu dengan sesosok makhluk yang sudah hidup di era purwakala yang disebut Dang Hyang Semar, yang dalam Naskah Cipaku disebut sebagai Ratu Galuh,” katanya dalam sebuah diskusi sejarah di chanel youtube Majelis Seni dan Tradisi Cirebon (Mesti Cirebon).

Ditempat pertemuan tersebut, Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar, lanjut Farihin, mendapat pertanyaan dari Dang Hyang Semar. “Dan Hyang Semar bertanya kepada Syekh Lemah Abang, ajaran apa yang hendak dibawa,” lanjutnya.

Artinya, dari keterangan tersebut, bahwa kehadiran Dukuh Semar sampai dengan sekarang, merupakan lokasi bertemunya Syekh Lemah Abang dan Pangeran Cakrabuwana dengan Dang Hyang Semar.

“Kenapa diberi nama Dukuh Semar, karena orang Cirebon meyakini kalau Semar itu berasal dari Cirebon dan Dukuh artinya kampung. Maka, Dukuh Semar itu artinya kampung semar,” bebernya.

Dia menjelaskan, bahwa ada yang menjadi saksi bisu bertemunya ketiga tokoh tersebut yang sampai dengan saat ini masih ada, yakni Pohon Serut. Pohon itu berusia ratusan tahun, karena pertemuan itu terjadi pada abad 15

“Sampai sekarang pohonnya masih ada. Bahkan, ada sebagian orang yang mengsakralkan pohon tersebut. Karena pohon itu berada di pinggir jalan dan banyak orang yang lalu lalang, sehingga pohon itu tidak nampak,” jelasnya.

Sementara, Sejarawan Cirebon, Dedi Syeh menambahkan bahwa keberadaan Caruban yang saat ini berkembang menjadi Cirebon berawal dari titik lokasi bertemunya tiga tokoh yakni Datuk Abdul Jalil (nama kecilnya San Ali, red) atau Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, Pangeran Cakrabuwana dan Dang Hyang Semar.

“Ketika ketiga tokoh ini bertemu, ada sebuah komunikasi atau dialog, dimana saat itu Syekh Lemah Abang banyak mendapatkan penjelasan tentang sejarah awang-uwung terciptanya alam semesta,” imbuhnya.

Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, Datuk Abdul Jalil bin Datuk Soleh diberikan hak tanah. Kemudian beliau mendapat tanah yang kemudian menjadi awal beliau mendapat julukan Syekh Lemah Abang.

Dalam naskah-naskah Cirebon, kisah pertemuan tersebut disebut Carita Warugajagat atau dalam naskahnya Pangeran Losari disebut sebagai Carita Purwaka Semesta Buwana. (jun/radar cirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *