DAKWAH VIA MEDIA SOSIAL

oleh -20 views
ILUSTRASI. DOKUMEN INTERNET
ILUSTRASI. DOKUMEN INTERNET

Oleh: Subandi*)

Dakwah adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar, dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama Islam kepada orang lain. Tujuannya, agar mereka menerima ajaran Islam tersebut dan menjalankannya dengan baik dalam kehidupan individual maupun masyarakat, untuk mencapai kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dengan menggunakan media dan cara-cara tertentu. (Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, 2009).

Secara etomologis, dakwah memiliki arti mengajak, menyeru, atau memanggil. Ini berbeda dengan amar ma’ruf yang berarti memerintahkan berbuat baik, dan nahi mungkar yang memiliki arti melarang berbuat mungkar.

Pemahaman yang keliru ini menyebabkan ada sebagian besar orang yang berdakwah dengan cara kekerasan misalnya dakwah dengan omongan yang kotor, menekan, menakut-nakuti, mengancam, yang intinya mengesankan dakwah Islam dengan cara keras. Jika demikian, sebenarnya hal itu bukan lagi mengajak atau menyeru, tetapi memaksa kepada umat agar mau melakukan apa yang mereka serukan. Tentu ini bukanlah yang dikehendaki dengan dakwah. Bukankah Alquran mengajarkan kepada kita untuk berdakwah dengan cara yang lembut dan bijaksana? (QS. An-Nahl: 125).

Sejarah dakwah menggambarkan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Walisongo di Jawa sangatlah berhasil. Para wali tersebut mampu mengislamkan sepanjang pesisir utara pantai Jawa dalam kurun waktu yang kurang dari lima puluh tahun.

Bagaimana itu bisa? Metode dakwah yang dipakai Walisongo dalam berdakwah bukanlah menjadi suatu rahasia lagi. Mereka berdakwah tanpa merombak total tradisi yang sudah mengakar.

Mereka juga berdakwah dengan cara-cara bijaksana seperti dakwah melalui media seni dan budaya; wayang, kenduri, lagu-lagu atau syi’ir, dan dakwah melalui budaya lainnya.

Apa yang dilakukan Walisongo itu merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa mengingat waktu itu sarana dan prasarana untuk dakwah sangat terbatas.

Wali Songo berdakwah dengan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan responsif terhadap permasalahan yang ada di tengah-tengah umat.

Itu adalah esensi yang perlu ditiru dan terus kembangkan untuk kemajuan dakwah. Cara-cara berdakwah yang dilakukan oleh Walisongo saat ini jarang diteladani oleh para dai atau mubaligh saat ini. (Samsul Munir Amin, Sejarah Dakwah, 2019).

Era saat ini adalah era digitalisasi. Hampir setiap orang memiliki alat media komunikasi canggih.  Informasi bukanlah menjadi masalah bagi setiap orang. Sekarang, orang dengan mudahnya bisa menyampaikan dan menerima informasi dari tempat yang paling jauh sekalipun.

Bisa dikata, era revolusi informasi bisa melipat jarak dan waktu. Apa yang terjadi di belahan bumi yang sangat jauh, bisa diketahui oleh orang yang ada di manapun. Dunia saat ini sedang mengalami revolusi informasi.

Dakwah Media Sosial

Bagaimana Dakwah di Media Sosial? Wearesocial Singapore, merilis data bahwa jumlah penduduk Indonesia adalah 251 juta; 38 juta nya adalah pengguna internet, 62 juta nya adalah pengguna Facebook aktif, dan 281 juta yang mengikuti (subscription) akun-akun.

Mereka yang aktif menggunakan internet juga memiliki akun di media sosial: 93% Facebook, 80% Twitter, 74% Google, 39% Linkedin, dan 32% Instagram.

Dari jumlah statistik tersebut, dunia internet atau dunia maya sudah menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari kehidupan orang Indonesia.

Artinya bahwa sedikit banyak dunia maya telah mampu mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata.

Maka seiring dengan kecenderungan masyarakat tersebut, kiranya para pemuka agama dalam hal ini para dai dan mubaligh dalam berdakwah juga harus terus berbenah diri agar apa yang disampaikan bisa tepat sasaran dan memiliki jangkauan yang luas.

Dakwah tidak lagi cukup hanya dilaksanakan di dalam pertemuan-pertemuan secara langsung saja seperti pengajian, majelis taklim, dan dakwah off line lainnya.

Tetapi dakwah juga harus masuk ke dalam dunia maya, utamanya media sosial, tempat dimana masyarakat mencari dan membagikan informasi tentang apapun, kepada siapa pun.

Sudah saatnya dakwah dengan media sosial (dakwah bil medsos) digarap dengan serius dan konsisten oleh kalangan pendakwah. Dibandingkan dengan dakwah kovensional, ada beberapa kelebihan berdakwah dengan menggunakan media sosial seperti jangkauan jamaah yang lebih luas, bisa ‘dinikmati’ kapanpun dan dimanapun.

Jika tidak, maka dakwah Islam akan dilakukan oleh mereka yang tidak memahami Islam yang sesungguhnya, karena bias jadi dakwah Islam akan dilakukan oleh mereka yang bukan ahlinya. Bisa jadi dakwah melalui media social akan dilakukan oleh mereka yang belum memahami Islam secara kaffah.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat berdakwah di media sosial.

Pertama, konten harus bermanfaat dan menunjukkan Islam yang damai. Beberapa tahun terakhir ini, kelompok Islam radikal-ekstremis, dan kelompok tekstualis memanfaatkan betul dakwah dengan media sosial ini.

Mereka menyerbu dan memenuhi wacana dan konten keislaman kita di dunia maya. Ini yang menjadi salah satu penyebab pemahaman Islam masyarakat menjadi kaku, hitam-putih, halal-haram, dan sorga neraka.

Sudah saatnya kelompok-kelompok Islam moderat harus lebih giat lagi dalam berdakwah dengan menggunakan media sosial sehingga model keberislaman masyarakat kita menjadi benar sebagaimana ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin. Misi kaum pesantren dan Islam moderat harus terus menerus digaungkan kepada masyarakat luas.

Kedua, konten harus berisi sesuatu yang menarik. Selain konten, kemasan juga harus diperhatikan dengan seksama. Sebaik apapun konten tetapi kalau kemasannya tidak menarik, maka tidak akan memiliki daya tarik dan orang tidak akan membaca atau melihatnya. Konten harus dikemas dengan semenarik mungkin, agar memiliki daya pikat pembaca atau pemirsa untuk melihatnya.

Ketiga, dakwah perlu dilakukan dengan responsif atau menyesuaikan dengan trend. Saat berdakwah di media sosial, dai juga harus memperhatikan isu-isu yang sedang aktual di tengah masyarakat.

Informasi akan viral (dibaca, dilihat, dan dibagikan) manakala informasi tersebut sedang menjadi trend dan diminati oleh para nitizen. Demikianpun dengan konten-konten dakwah.

Melihat kenyataan-kenyataan seperti itu, maka sudah saatnya jika dakwah dengan media sosial bisa dimanfaatkan oleh para dai untuk menebarkan konten-konten kebaikan dan konten-konten dakwah wasathiyah di tengah masyarakat agar benar-benar masyarakat mengetahui bahwa sesungghnya Islam adalag agama damai, agama yang membawa rahmatan lil’alamin. (*)

*) Aktivis PCNU Indramayu

Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Harian Umum Radar Cirebon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *