Cabe Sudah Turun, Giliran Kedelai Naik, Ukuran Tempe Diperkecil

oleh -11 views
Tempe kedelai
TETAP JUALAN: Pedagang tempe tetap jualan. Foto Abdulah/Radar Cirebon

CIREBON – Awal tahun 2021, produsen hingga pedagang tempe dibuat pusing. Sebab, melambungnya harga kedelai impor membuat pedagang tempe limbung. Kini, harga kedelai impor naik menjadi Rp9.600 dari Rp6.600 per kilogram. Walaupun bingung dengan kenaikan harga kedelai, namun tidak sedikit produsen yang berusaha untuk tetap bertahan memproduksi tempe.

Eko, pedagang tempe yang setiap pagi biasa keliling di Kompleks Perumahan Taman Nuansa Majasem mengaku bingung dengan mahalnya bahan baku kedelai untuk tempe. Eko yang juga memproduksi tempe di rumahnya, merasa keberatan dengan melambungnya harga kedelai.

Eko tidak menampik, bahan baku pembuat tempe praktis mengandalkan kedelai impor. Alasannya, kedelai impor memiliki kelebihan. Yakni, lebih mudah mengembang ketika dibuat tempe. Berbeda dengan kedelai lokal. Ketika digunakan sebagai bahan baku tempe, ternyata hasilnya mengecil. “Selama ini memang pakai kedelai impor karena kelebihannya bisa mengembang saat dibuat tempe,” kata Eko.

Eko menceritakan, dengan melambungnya harga tempe, membuat banyak yang tidak memproduksi. Namun demikian, dirinya mencoba untuk bertahan memproduksi tempe. Tujuannya melayani pelanggan walaupun bahan bakunya mahal. “Ini jualan karena hanya melayani pelanggan saja,” ujarnya.

 Dampak dari mahalnya bahan baku, Eko terpaksa mengecilkan ukuran tempenya, tapi dengan harga tetap. “Ini terpaksa ukuran tempe sedikit diperkecil tapi harga tetap. Bagaimanapun juga yang dilayani ini adalah pelanggan saya,” pungkasnya. (abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *