Ada Siluman Buaya Berparas Tampan, Kisah Dibalik Masjid tanpa Bedug Indramayu

oleh -404 views
TANPA BEDUG: Masjid Jami Nurul Muhtadien adalah salah satu masjid tanpa bedug di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. FOTO. JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON
TANPA BEDUG: Masjid Jami Nurul Muhtadien adalah salah satu masjid tanpa bedug di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. FOTO. JERRELL ZEFANYA T/ZETIZEN RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, KOTAWALI – Biasanya dalam sebuah masjid di Nusantara identik dengan adanya bedug. Hal tersebut karena sebagai tanda telah masuk waktu salat disusul dengan adzan. Namun, hal ini berbeda dengan salah satu masjid di Kabupaten Indramayu.

Setidaknya ada dua desa yang tidak menggunakan bedug, yaitu Desa Jatisawit dan Jatisawit Lor Kecamatan Jatibarang. Bahkan, penggunaan bedug justru banyak dihindari warga. Salah satunya adalah Masjid Jami Nurul Muhtadien. Masjid ini dibangun pada tahun 1984.

Masjid tersebut tidak menggunakan bedug bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, di daerah tersebut ada salah satu kisah legenda yang diceritakan turun-temurun oleh masyarakat sekitar daerah tersebut.

Baca juga: Fakta Menarik! Sebelum Jadi Tempat Ibadah, Masjid Jagabayan Dulunya Hanya Sebuah Bangunan ini

Menurut Pj Kuwu Jatisawit Didin Nurudin, kisah tersebut bermula dari seorang lebe bernama Ki Talun Kanta yang menemukan seekor siluman buaya yang bernama Ki Jumad di sekitaran Sungai Cimanuk. Hingga, Ki Jumad diangkat oleh Ki Talun Kanta sebagai anaknya.

Siluman buaya tersebut menjelma menjadi seorang pemuda yang tampan setiap malam Jumat. Hingga akhirnya, pemuda tersebut bertemu seorang gadis bernama Suniah, yang merupakan anak Ki Kuwu Jagantaka. Gadis itu menyukai pemuda tersebut.

Setelah menikah, Ki Jumad membawa Suniah menuju alamnya. Namun di sana ada sebuah pantangan, yakni Suniah dilarang naik ke atas atau ke atap. Hingga ia merasa penasaran dan ia melanggar pantangan tersebut. Sehingga, Suniah dikembalikan ke dunia manusia tanpa sang suami.

Merasa prihatin dengan hal tersebut, Ki Jumad berpesan agar menabuh bedug apabila dalam keadaan bahaya. Maka, bantuan dari kerajaan buaya akan datang. Namun, hampir setiap masjid selalu membunyikan bedug ketika memasuki waktu salat. Hingga, pasukan siluman buaya datang karena mengira akan ada bahaya.

“Akhirnya disepakati bahwa masjid di daerah ini tidak menggunakan bedug lagi. Bedug-bedug tersebut dibuang ke Sungai Cimanuk. Hingga akhirnya digunakan desa seberang,” ujarnya.

Baca juga: Konon Peninggalan Wali, Bangunan Masjid ini Mirip Dengan Masjid Merah Panjunan

Didin melanjutkan, bahwa ada beberapa kejadian saat datang marabahaya salah satunya adanya dua desa yang ingin tawuran dan Desa Jatisawit membunyikan bedug. Maka, masyarakat seberang Desa Jatisawit mengaku melihat sekumpulan pasukan berbaju hitam yang siap menyerang. Hingga akhirnya tawuran berhasil dihindarkan.

Selain itu ada kejadian Sungai Cimanuk meluap dan mengancam Desa Jatisawit dan Jatisawit Lor. Akhirnya, ditabuhlah bedug agar banjir tidak terjadi dan benar saja luapan Sungai Cimanuk tidak membanjiri wilayah tersebut.

“Pernah ada cerita tawuran dan banjir akibat luapan Sungai Cimanuk. Akhirnya, ditabuhlah bedug oleh masyarakat, hingga ancaman tersebut berhasil terhindarkan,” tutup Didin. (jerell/zetizen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.